geligendut

Excel and more…

Note from CEO: “Don’t Kill Your Enemy…”

Pada suatu kesempatan mengenal lebih dalam tentang dunia marketing, saya dan beberapa rekan menemui seorang CEO sebuah perusahaan. Kedatangan ini merupakan suatu rangkaian proses pinjaman kendaraan yang diajukan sang CEO agar bank dimana saya bekerja dapat mengenal lebih dekat profil calon debitur.

Singkatnya, sang CEO bercerita bagaimana ia membangun bisnisnya dan tetap bertahan sejak tahun 1968. Awalnya hanyalah sebuah perusahaan distributor berbentuk CV. Produk yang dijual di impor dari jepang yang terkenal dengan kualitasnya. Menurut pengakuan sang CEO, pada waktu itu produknya ditawarkan dengan harga yang sedikit lebih tinggi dibandingkan kompetitor namun ia tetap optimis karena kualitas dan brand yang cukup kuat. Terbukti dalam waktu singkat keuntungan sudah dapat diraih dan memperoleh kepercayaan dari pasar.

Rupanya kondisi ini dianggap mengancam keuntungan kompetitor. Bukannya bersaing secara sehat, sang kompetitor malah menggunakan kedekatannya dengan birokrasi untuk mencegah masuknya produk-produk sang CEO. “Bea masuk naik sampai 100 %, pasar masih membeli produk-produk saya, terus naik sampai begitu bea masuk naik sampai hampir 200%, saya sempat terpaksa menyelundupkan produk-produk tersebut” kenang sang CEO.  Menyadari hal itu, sebuah pabrik pun dibangun untuk memangkas biaya-biaya yang timbul. Pembagunan pabrik ini membuat sang CEO bekerja keras karena kurangnya pengalaman dan sulitnya memperoleh kepercayaan dari pihak perbankan. Beberapa tahun kemudian pabrik pun berhasil didirikan dan bisnis kembali berjalan.

jgrn830l

Moral of the story:

Keuntungan dari kenaikan bea masuk adalah pasar semakin “percaya” bahwa dengan harga yang ditawarkan cukup tinggi produk-produk yang ditawarkan memang benar-benar berkualitas. Efek samping dari upaya persaingan yang tidak sehat ini ternyata membawa dampak positif terhadap produk sang CEO.

Saya yakin ini bukan satu-satunya faktor yang menjadikan produk tersebut menjadi lebih dikenal dan menguasai pasar domestik tapi paling tidak saya kembali diingatkan pada satu bab buku The 48 Laws of Power karya Robert Greene; Never put too much trust in friends, Learn how to use enemies. And the CEO had taken the benefit from his “enemy”.

Filed under: Uncategorized

An old lady, an helpfull friend and a perfect partner

Bagus baget ceritanya…

thinking outside the box

Today I am going to share with you a question I was asked in a job interview 8 years ago. This question really inspired me and changed my outlook on the way I thought and approached problems.

Question: You are driving along in your car on a wild, stormy night, it’s raining heavily, when suddenly you pass by a bus stop, and you see three people waiting for a bus:

1) An old lady who looks as if she is about to die, 2) An old friend who once saved your life, and 3) The perfect partner you have been dreaming about.

Which one would you choose to offer a ride to if there could only be one passenger in your car?

This is a moral/ethical dilemma, so let’s look at the options that were in my head at the time:

* You could pick up the old lady, because she is going to die, and thus you should save her first;

* or you could take the old friend because he once saved your life, and this would be the perfect chance to pay him back.

* However, you may never be able to find your perfect mate again.

I won’t tell you what answer I gave, but needless to say, I didn’t get the job. But I was intrigued, so I called back a week later and asked what the right answer was…

Here is what they told me:

The candidate who was hired gave this answer:

I would give the car keys to my Old friend and let him take the lady to the hospital. I would stay behind and wait for the bus with the partner of my dreams.

Sometimes, we gain more if we are able to give up our stubborn thought limitations. Never forget to “Think Outside the Box.

Dean

Filed under: Uncategorized

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.